Dia hadir dalam hidupku seakan menjadi jawaban atas do'a - do'aku. Tak pernah ku berpikir akan memilikinya. Dia yang selama ini begitu dekat di mataku, namun tak pernah ku coba melihat. Ku menemukannya di ujung kegelisahan hati yang kian membuncah. Tak ku sangka, luka hati yang selama ini menggerogotiku ia sembuhkan dengan sekejap. Meski terlalu dini tuk mengakui ku mencintainya, namun itulah yang kiranya terjadi. Hari demi hari seolah - olah membuktikan bahwa dibalik segala kekurangannya, ada prinsip yang begitu kuat yang ia miliki, ada ketegasan yang aku inginkan dari seorang laki - laki, dan kasih yang tulus yang membuatku merasa begitu dicintai.
Aku tak sanggup menghindari cinta yang begitu besar yang ia berikan padaku, dan yang selalu mewarnai tiap lembar hari - hariku. Sungguhku ingin memilikinya seutuhnya. Namun aku sendiri tak sanggup bila harus jauh darinya. Dan selalu saja keadaan memaksaku untuk berada dalam dua pilihan yang sangat sulit.
Cinta,
Andai saja kau mengerti, bahwa kau yang terbaik
untuk saat ini maupun jika saat kita berpisah nanti
Cinta,
Jangan pernah membenciku bila suatu saat ku berpaling
Karena sesungguhnya hatiku tak kan pernah berpaling
Cinta,
Tau kah kau bahwa hatiku teriris
Saat ku harus melepaskanmu tanpa pernah ku inginkan
Sabtu, 07 April 2012
0
komentar
Hitam dan Putih
Selasa, 08 November 2011
0
komentar
Hitam dan Putih hidupku
adalah sebuah bukti keberadaanku di dunia ini
lembar demi lembar buku harian hidupku
tlah penuh noda kini . . .
lalu bagaimana bisa kau tak melihatku?
Disana,,,
laut memanggilku tuk menemaninya menari
bersama itu aku masih merajut harapan
tuk mampu melihat parasmu dibatasnya cakrawala
sekedar pelipur rindu yang membuncah
Namun hanya ada gemericik hujan
mengalir di sudut mata ini
mencoba membuang semua memori dari benakku
membiarkannya dihempas ombak,
dan melebur bersama dosa-dosa yang tak terhindarkan...
adalah sebuah bukti keberadaanku di dunia ini
lembar demi lembar buku harian hidupku
tlah penuh noda kini . . .
lalu bagaimana bisa kau tak melihatku?
Disana,,,
laut memanggilku tuk menemaninya menari
bersama itu aku masih merajut harapan
tuk mampu melihat parasmu dibatasnya cakrawala
sekedar pelipur rindu yang membuncah
Namun hanya ada gemericik hujan
mengalir di sudut mata ini
mencoba membuang semua memori dari benakku
membiarkannya dihempas ombak,
dan melebur bersama dosa-dosa yang tak terhindarkan...
Label:
Puisi
Worst Day
Kamis, 22 September 2011
0
komentar
Kembali kuliah setelah 3 bulan libur adalah hal yang paling aku nantikan. Bertemu sahabat-sahabat tercinta dan beraktivitas menjadi seorang mahasiswi lagi. Minggu pertama menjadi hari-hari yang menggembirakan. Sampai pada hari Minggu tanggal 18 September 2011 kebahagiaan itu seakan runtuh secara tiba-tiba. Aku jatuh sakit. Tadinya aku pikir demam biasa. Tapi tumben sekali suhu tubuhku sampai lebih dari 39 derajat Celcius. Dan keesokan harinya aku dapati di tubuhku muncul butiran-butiran kecil berair yang kata ibuku itu adalah CACAR. Whattttttt??? Damn it ! Damn it ! Damn it ! Sebenarnya aku masih belum ngeh sendiri dengan apa dan gimana cacar itu, coz ini adalah pertama kalinya buatku. Sampai pada hari kedua, I'm so panic and stress. Depresi tingkat tinggi ketika bentol-bentol itu muncul memenuhi wajahku.
Hatiku seakan hancuuurr....melebihi ketika patah hati. Berbagai pertanyaan, kekesalan muncul di dalam pikiranku. "Kenapa sih penyakit ini muncul disaat yang tidak tepat ??"
Kenapa aku bilang tidak tepat adalah karena minggu ini jadwalku mencari tempat magang. Terus nasib tugas akhirku gimana?????
Ya Allah,,,,,rasa-rasanya kayak pengen mati aja. Coz pada awalnya aku sudah sangat bersemangat untuk magang kerja, serta menyelesaikan tugas akhir. Tetapi penyakit ini tiba-tiba saja meluluh lantakkan semangatku. :'(
Dua hari aku nangis di kamar. Alhamdulillah aku punya ibu yang hebat, yang selalu memberikan kasih sayang,merawat aku dengan penuh kesabaran, tanpa rasa jijik melihat anaknya berwajah tak karuan. Sementara aku sendiri jijik tiap kali harus mengoleskan salep atau menaburi badanku dengan bedak.
Ya Allah,,,,aku cuma bisa meminta untuk diberikan kesabaran yang tiada batas dalam menghadapi ujian dari-Mu.
Aku juga masih bersyukur karena memiliki sahabat-sahabat yang selalu menghiburku,mensupport dan mendoakan aku. Bahkan mereka datang menjenguk tanpa takut tertular. Alhamdulillah Ya Allah...
Aku bersyukur dikelilingi manusia-manusia berhati malaikat, yang selalu ada disaat suka maupun duka. Subhanallah...
Disaat sesulit ini, Engkau masih memberikan nikmat-Mu. Dan membukakan mata hatiku, betapa pentingnya mereka di hidupku.
Terima kasih Ya Allah, Thanks Mom and all my best friends. Love u all :-*
Do'ain ya biar cepet sembuh :(
Hatiku seakan hancuuurr....melebihi ketika patah hati. Berbagai pertanyaan, kekesalan muncul di dalam pikiranku. "Kenapa sih penyakit ini muncul disaat yang tidak tepat ??"
Kenapa aku bilang tidak tepat adalah karena minggu ini jadwalku mencari tempat magang. Terus nasib tugas akhirku gimana?????
Ya Allah,,,,,rasa-rasanya kayak pengen mati aja. Coz pada awalnya aku sudah sangat bersemangat untuk magang kerja, serta menyelesaikan tugas akhir. Tetapi penyakit ini tiba-tiba saja meluluh lantakkan semangatku. :'(
Dua hari aku nangis di kamar. Alhamdulillah aku punya ibu yang hebat, yang selalu memberikan kasih sayang,merawat aku dengan penuh kesabaran, tanpa rasa jijik melihat anaknya berwajah tak karuan. Sementara aku sendiri jijik tiap kali harus mengoleskan salep atau menaburi badanku dengan bedak.
Ya Allah,,,,aku cuma bisa meminta untuk diberikan kesabaran yang tiada batas dalam menghadapi ujian dari-Mu.
Aku juga masih bersyukur karena memiliki sahabat-sahabat yang selalu menghiburku,mensupport dan mendoakan aku. Bahkan mereka datang menjenguk tanpa takut tertular. Alhamdulillah Ya Allah...
Aku bersyukur dikelilingi manusia-manusia berhati malaikat, yang selalu ada disaat suka maupun duka. Subhanallah...
Disaat sesulit ini, Engkau masih memberikan nikmat-Mu. Dan membukakan mata hatiku, betapa pentingnya mereka di hidupku.
Terima kasih Ya Allah, Thanks Mom and all my best friends. Love u all :-*
Do'ain ya biar cepet sembuh :(
Jumat, 09 September 2011
0
komentar
Dalam sunyi ku bersimpuh,
hanyut aku dalam tangisan,
keindahan dunia yang fana
sering membuatku lupa akan kebesaran-Mu
sesering semilir angin bertiup,
mulut ini tak hentinya mengeluh
akan semua beban hidup...
"aku lelah,,,"
"aku benci,,,"
"kenapa harus begini,,,?"
"kenapa semua ini harus terjadi,,,?"
terkadang bila rasa kesal membuncah,
kata-kata umpatan pun terlontar
dari mulut hamba-Mu yang hina ini
Terkadang dalam takutku akan murka-Mu,
terbesit betapa hinanya hamba,
sungguh hamba tak pantas mengharap Surga-Mu
Ya Allah Ya Rahman,
hanya dalam pelukan-Mu hamba merasa tenang
hanya dalam buaian kasih-Mu hamba merasakan kesejukan
jangan biarkan hamba berpaling dari Mu lagi,,,
karena sesungguhnya engkaulah cinta dalam hidupku yang abadi
hanyut aku dalam tangisan,
keindahan dunia yang fana
sering membuatku lupa akan kebesaran-Mu
sesering semilir angin bertiup,
mulut ini tak hentinya mengeluh
akan semua beban hidup...
"aku lelah,,,"
"aku benci,,,"
"kenapa harus begini,,,?"
"kenapa semua ini harus terjadi,,,?"
terkadang bila rasa kesal membuncah,
kata-kata umpatan pun terlontar
dari mulut hamba-Mu yang hina ini
Terkadang dalam takutku akan murka-Mu,
terbesit betapa hinanya hamba,
sungguh hamba tak pantas mengharap Surga-Mu
Ya Allah Ya Rahman,
hanya dalam pelukan-Mu hamba merasa tenang
hanya dalam buaian kasih-Mu hamba merasakan kesejukan
jangan biarkan hamba berpaling dari Mu lagi,,,
karena sesungguhnya engkaulah cinta dalam hidupku yang abadi
Label:
Poems
Ramadhan Mubarak !
Senin, 01 Agustus 2011
0
komentar
Hari pertama bulan Ramadhan alhamdulillah lancar aku lalui bersama keluargaku tercinta. Menyenangkan sekali bisa sahur dan buka bersama bareng. Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan ke-2 sejak aku pindah ke Jogja. Dua kali sholat tarawih disini, rasanya sungguh berbeda. Seolah-olah ada sebuah ruang kosong di hati aku, dimana aku sedikit kehilangan rasa semangat untuk menjalaninya. Astaghfirullah...Tapi memang benar adanya. Aku merasa sangat berbeda. Di kota kelahiranku sendiri, aku merasa asing. Mungkin karena aku sudah lama tinggal di Cepu. Disini aku tidak mendapatkan kemeriahan bulan Ramadhan. Dulu, biasanya sewaktu sahur, selalu dibangunkan suara "Kothekan". Dulu aku menganggap hal itu sangat mengganggu, dan terkadang risih. Tetapi sekarang aku justru sangat merindukan suara itu. Disini, di kota Jogja. Tak terdengar sedikitpun riuh suara anak-anak yang bernyanyi sambil memainkan alat musik tradisional untuk membangunkan orang sahur. Benar-benar sepi....
Selain itu, setiap shalat fardhu, sesaat setelah adzan, biasanya aku dengar suara puji-pujian. Dan aku senang sekali bernyanyi mengikuti puji-pujian itu. Akan tetapi disini, hal itu tak aku dapatkan lagi. Seakan-akan sebagian tradisi yang dulu ada di masa kecilku, sudah mati.
Ya Allah, bukan maksud hamba tidak mensyukuri nikmat yang Engkau berikan, tetapi aku sungguh telah kehilangan nikmatnya Ramadhan. Ditambah lagi, sudah tidak ada bapak ditengah-tengah kami.
Meskipun sekarang ada kaka' ipar dan calon keponakan yang tak lama lagi meramaikan suasana rumah ini. Akan tetapi, keberadaan bapak masih sangat aku rindukan. Kalau saja waktu bisa aku putar kembali, mungkin aku akan lebih memilih tinggal di cepu. Karena disana, alu bisa merasakan kemeriahan, dan kenikmatan Ramadhan.
Namun bila memang jalan hidupku adalah tinggal disini, hamba mohon Ya Rabb, lapangkanlah hati hamba, isilah hati hamba dengan nikmat-Mu agar hamba bisa merasakan kenikmatan Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Amin.
Selain itu, setiap shalat fardhu, sesaat setelah adzan, biasanya aku dengar suara puji-pujian. Dan aku senang sekali bernyanyi mengikuti puji-pujian itu. Akan tetapi disini, hal itu tak aku dapatkan lagi. Seakan-akan sebagian tradisi yang dulu ada di masa kecilku, sudah mati.
Ya Allah, bukan maksud hamba tidak mensyukuri nikmat yang Engkau berikan, tetapi aku sungguh telah kehilangan nikmatnya Ramadhan. Ditambah lagi, sudah tidak ada bapak ditengah-tengah kami.
Meskipun sekarang ada kaka' ipar dan calon keponakan yang tak lama lagi meramaikan suasana rumah ini. Akan tetapi, keberadaan bapak masih sangat aku rindukan. Kalau saja waktu bisa aku putar kembali, mungkin aku akan lebih memilih tinggal di cepu. Karena disana, alu bisa merasakan kemeriahan, dan kenikmatan Ramadhan.
Namun bila memang jalan hidupku adalah tinggal disini, hamba mohon Ya Rabb, lapangkanlah hati hamba, isilah hati hamba dengan nikmat-Mu agar hamba bisa merasakan kenikmatan Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Amin.
Label:
Ramadhan
Peran Manajer Lini sebagai "Manajer SDM"
Sabtu, 25 Juni 2011
0
komentar
Pada saat saya membaca sebuah artikel di koran Kompas, saya langsung teringat mengenai mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang diajarkan oleh dosen saya. Dan saya tertarik untuk menuliskannya kembali artikel tersebut karena cukup menggelitik dan rasanya hal ini perlu kita ketahui agar bisa diterapkan di perusahaan-perusahaan dewasa ini.
Disini terdapat sebuah kasus, dimana Yudi sebagai seorang manajer SUmber Daya Manusia (SDM) yang telah cukup lama bekerja di sebuah perusahaan perbankan, mengeluhkan permasalahan yang dihadapi oleh tim SDM-nya. Dia merasakan bahwa apapun yang telah mereka lakukan, kurang mendapat dukungan maupun apresiasi dari bagian kerja laiinya. Kemudian dia menceritakan mengenai keluhan dari bagian lain tentang pengembangan karyawan yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan. Bagian SDM juga sering dianggap musuh karyawan karena menjadi pusat pemberi Surat Peringatan (SP). Tidak jarang SP yang diberikan menimbulkan kaget luar biasa bagi karyawan terkait karena atasannya, yang sebenarnya mengajukan permintaan SP, tidak pernah mengingatkan kesalahan yang dilakukannya sebelumnya.
Kasus diatas bukanlah kejadian yang unik. Bagian SDM sering merasa menjadi bulan-bulanan masalah dan bagian lainnya sering merasa bagian SDM tidak mampu menjadi mitra bisnis dalam memberikan dukungan yang sesuai. Para manajer lini seringkali berharap bahwa bagian SDM yang sepenuhnya merekrut dan mengembangkan karyawan sehingga mampu memberikan karyawan instant yang matang dan siap memberikan kontribusi yang optimal, para manaje dengan mudah menyalahkan bagian SDM.
Dari survei yang dilakukan, mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam melakukan proses pengembangan karyawan. Kebanyakan peserta sekitar 60-70 persen manyatakan bahwa manajer SDM lah yang memiliki tanggung jawab tersebut. Hasil survei tersebut menunjukkan kesalahan persepsi tentang arti pengembangan karyawan. Bentuk pengembangan yang sering muncul dalam pikiran manajer adalah dalam bentuk kelas pelatihan. Karena anggaran pelatihan dipegang oleh bagian SDM , pengembangan dianggap merupakan tanggung jawab bagian tersebut.
Namun pelatihan hanyalah sebagian kecil dari proses pengembangan. Pengembangan juga terdiri dari pemberian penugasan khusus, mutasi, umpan balik, bimbingan dan aktivitas lainnya yang lebih efektif ditangani oleh atasan langsung. Bahkan, penentuan jenis pelatihan merupakan bagian dari tanggung jawab manajer lini. Dengan masukan dari manajer lini, bagian SDM dapat menentukan jenis pelatihan yang lebih tepat dan sesuai sasaran.
Sering pelatihan di keals gagal menghasilkan perbaikan perilaku karena atasan dari peserta tidak menindaklanjuti dan menekankan penggunaan dari perilaku yang diajarkan. Bahkan, kadang atasan tersebut justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan konsep yang diberikan selama pelatihan.
Dave Ulrich melakukan riset terhadap lebih dari 400 organisasi di dunia dan menemukan bahwa peran Employee Champion, yaitu peran untuk mengembangkan dan memotivasi karyawan sehari-hari agar memiliki komitmen dan meemberi kontribusi secara optimal dalam kinerja mereka, merupakan tanggung jawab milik manajer lini. Di organisasi Hewlett-Packard, misalnya, 98% dari peran ini dijalankan oleh manajer lini. Bagian SDM memiliki tanggung jawab 2 % dengan menyiapkan kebijakan tentang program pengembangan karyawan serta mensosialisasikan dan memantau implementasi dari kebijakan tersebut. Sebagai oragnisasi yang masuk dalam daftar "Good to Graet Company" menurut studi Jim Collins, Hewlet-Packard memiliki praktek Employee Champion layak menjadi inspirasi bagi organisasi di Indonesia. Penambahan peran pengelolaan karyawan pada fungsi manajer lini merupakan keaharusan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan efektivitas dari penerapan inisiatif SDm apapun yang ingin dijalanka,
Tanpa kesadaran peran baru ini, program SDM yang dijalankan menjadi tidak efektif karena tidak di dukung oleh manajer lini. Sebagai seorang manajer SDM perlu mengambil tindakan secara proaktif untuk mengembagkan wawasan akan paradigma ini dan memberi ketrampilan kepada manaje lini agar mereka memahami dan mampu menjalankan peran manajer SDM di bagiannya.
Sumber : Kompas, Sabtu 18 Juni 2011, hal. 57. Oleh : Bayu Setiaji, Vice President,Delivery, PT Lutan Edukasi.
Disini terdapat sebuah kasus, dimana Yudi sebagai seorang manajer SUmber Daya Manusia (SDM) yang telah cukup lama bekerja di sebuah perusahaan perbankan, mengeluhkan permasalahan yang dihadapi oleh tim SDM-nya. Dia merasakan bahwa apapun yang telah mereka lakukan, kurang mendapat dukungan maupun apresiasi dari bagian kerja laiinya. Kemudian dia menceritakan mengenai keluhan dari bagian lain tentang pengembangan karyawan yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan. Bagian SDM juga sering dianggap musuh karyawan karena menjadi pusat pemberi Surat Peringatan (SP). Tidak jarang SP yang diberikan menimbulkan kaget luar biasa bagi karyawan terkait karena atasannya, yang sebenarnya mengajukan permintaan SP, tidak pernah mengingatkan kesalahan yang dilakukannya sebelumnya.
Kasus diatas bukanlah kejadian yang unik. Bagian SDM sering merasa menjadi bulan-bulanan masalah dan bagian lainnya sering merasa bagian SDM tidak mampu menjadi mitra bisnis dalam memberikan dukungan yang sesuai. Para manajer lini seringkali berharap bahwa bagian SDM yang sepenuhnya merekrut dan mengembangkan karyawan sehingga mampu memberikan karyawan instant yang matang dan siap memberikan kontribusi yang optimal, para manaje dengan mudah menyalahkan bagian SDM.
Dari survei yang dilakukan, mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam melakukan proses pengembangan karyawan. Kebanyakan peserta sekitar 60-70 persen manyatakan bahwa manajer SDM lah yang memiliki tanggung jawab tersebut. Hasil survei tersebut menunjukkan kesalahan persepsi tentang arti pengembangan karyawan. Bentuk pengembangan yang sering muncul dalam pikiran manajer adalah dalam bentuk kelas pelatihan. Karena anggaran pelatihan dipegang oleh bagian SDM , pengembangan dianggap merupakan tanggung jawab bagian tersebut.
Namun pelatihan hanyalah sebagian kecil dari proses pengembangan. Pengembangan juga terdiri dari pemberian penugasan khusus, mutasi, umpan balik, bimbingan dan aktivitas lainnya yang lebih efektif ditangani oleh atasan langsung. Bahkan, penentuan jenis pelatihan merupakan bagian dari tanggung jawab manajer lini. Dengan masukan dari manajer lini, bagian SDM dapat menentukan jenis pelatihan yang lebih tepat dan sesuai sasaran.
Sering pelatihan di keals gagal menghasilkan perbaikan perilaku karena atasan dari peserta tidak menindaklanjuti dan menekankan penggunaan dari perilaku yang diajarkan. Bahkan, kadang atasan tersebut justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan konsep yang diberikan selama pelatihan.
Dave Ulrich melakukan riset terhadap lebih dari 400 organisasi di dunia dan menemukan bahwa peran Employee Champion, yaitu peran untuk mengembangkan dan memotivasi karyawan sehari-hari agar memiliki komitmen dan meemberi kontribusi secara optimal dalam kinerja mereka, merupakan tanggung jawab milik manajer lini. Di organisasi Hewlett-Packard, misalnya, 98% dari peran ini dijalankan oleh manajer lini. Bagian SDM memiliki tanggung jawab 2 % dengan menyiapkan kebijakan tentang program pengembangan karyawan serta mensosialisasikan dan memantau implementasi dari kebijakan tersebut. Sebagai oragnisasi yang masuk dalam daftar "Good to Graet Company" menurut studi Jim Collins, Hewlet-Packard memiliki praktek Employee Champion layak menjadi inspirasi bagi organisasi di Indonesia. Penambahan peran pengelolaan karyawan pada fungsi manajer lini merupakan keaharusan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan efektivitas dari penerapan inisiatif SDm apapun yang ingin dijalanka,
Tanpa kesadaran peran baru ini, program SDM yang dijalankan menjadi tidak efektif karena tidak di dukung oleh manajer lini. Sebagai seorang manajer SDM perlu mengambil tindakan secara proaktif untuk mengembagkan wawasan akan paradigma ini dan memberi ketrampilan kepada manaje lini agar mereka memahami dan mampu menjalankan peran manajer SDM di bagiannya.
Sumber : Kompas, Sabtu 18 Juni 2011, hal. 57. Oleh : Bayu Setiaji, Vice President,Delivery, PT Lutan Edukasi.
Label:
Pengendalian Manajemen
"Mental Block"
Sekelompok eksekutif di devisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar, mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan, telah merebut pasar mereka. Kini mereka seakan tertampar karena menyadari selama perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, tetapi perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.
Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan "bussines as usual". Istilah "think out of the box" bahkan sudah tidak relevan lagi, karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy. Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "box" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan pola pikir lama? Cepat atau lambat semua keterikatan, peraturan atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, peru ditinjau kembali, dan diperbaharui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang herus setiap saat berpikir "beda"?
Sadar tidak sadar kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, tetapi justru kerap menerima bahwa kita terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, " Mungkin saya memang tidak kreatif.." Terobosan, pembaruan dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreatifitas yang istimewa. Secepatnya kita harus berpikir bahwa "box" yang dirasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Pada saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.
Kita sering sudah merasa menggunakan daya pikir kita secara all out,apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita stres dan lelah. Seorang teman berkomentar " Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"
Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah dan anggapan bahwa berpikir adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir.
Sementara itu ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, " The brain is a wonderful organ. It start the moment you get up and doesn't stop until you get into office.'
Marilah kita memperhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang yang pintar,logis ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan tidak membuatnya stres. Bahkan membuatnya bahagia. Bagaimana dengan kita dalam situsai kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha seraional mungkin? Kitapun kerap membatasi berpikir hanya pada saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi kita sering menginstruksikan diri untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa "mental block" sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah mengeblok mental, tentunya akan mati langkah.
Saat ini orang sudah tidak perlu bersusah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua inforamsi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan kepada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan apa bedanya kita dengan orang yang hidup pada era 30 tahun yang lalu?
Solusi tidak datang begitu saja, itu sebabnya kita harus piawai dalam proses mencari jalan keluar. Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui. Banyak tokoh yang kita kenal lulus dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan kemana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung dan matanya tajam-tajam serta menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?
Dikutip dari : Kompas,sabtu 18 Juni 2011. Hal. 37. By Eileen Rachman & Sylvina savitri.
Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan "bussines as usual". Istilah "think out of the box" bahkan sudah tidak relevan lagi, karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy. Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "box" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan pola pikir lama? Cepat atau lambat semua keterikatan, peraturan atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, peru ditinjau kembali, dan diperbaharui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang herus setiap saat berpikir "beda"?
Sadar tidak sadar kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, tetapi justru kerap menerima bahwa kita terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, " Mungkin saya memang tidak kreatif.." Terobosan, pembaruan dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreatifitas yang istimewa. Secepatnya kita harus berpikir bahwa "box" yang dirasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Pada saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.
Kita sering sudah merasa menggunakan daya pikir kita secara all out,apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita stres dan lelah. Seorang teman berkomentar " Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"
Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah dan anggapan bahwa berpikir adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir.
Sementara itu ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, " The brain is a wonderful organ. It start the moment you get up and doesn't stop until you get into office.'
Marilah kita memperhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang yang pintar,logis ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan tidak membuatnya stres. Bahkan membuatnya bahagia. Bagaimana dengan kita dalam situsai kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha seraional mungkin? Kitapun kerap membatasi berpikir hanya pada saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi kita sering menginstruksikan diri untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa "mental block" sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah mengeblok mental, tentunya akan mati langkah.
Saat ini orang sudah tidak perlu bersusah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua inforamsi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan kepada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan apa bedanya kita dengan orang yang hidup pada era 30 tahun yang lalu?
Solusi tidak datang begitu saja, itu sebabnya kita harus piawai dalam proses mencari jalan keluar. Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui. Banyak tokoh yang kita kenal lulus dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan kemana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung dan matanya tajam-tajam serta menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?
Dikutip dari : Kompas,sabtu 18 Juni 2011. Hal. 37. By Eileen Rachman & Sylvina savitri.
Label:
Pengendalian Manajemen
We call it FrieNdzhip - UTY Gangster
Kamis, 09 Juni 2011
0
komentar
Pertama kali aq masuk ni kampus, rasanya malezzz bangettt....gara2 gak ada satupun temen seangkatan dari kampusku yang lama. Udah gtu anak2nya keliatan pendiemmmm banget,,,gak asik lah pokoknya. Aq ngerasa asing banget di sini. Gak betah lah intinya, tapi terpaksa gara2 aq emang niat buat nglanjutin kuliah disini. Coz selain biayanya murah, aq pengen punya temen baru. Satu semester rasanya lamaaaa....banget dilewati,,,apalagi tugas yang segudang semakin bikin bad mood. Tapi seiring berjalannya waktu,,,aq makin deket sama anak-anak. Dan yang dulu masih pada jaim-jaiman, sekarang udah gak lagi. Pokoknya ketahuan ancurnya. Hahaha....
Sohib-sohib aq ini anak-anak transfer yang dulu udah menempuh tingkat D3. Mereka semua ternyata punya kisah yang unik-unik yang kalau dibahas mungkin bakalan menuhin blog aku ini. Qta smakin deket gara-gara di hampir semua mata kuliah yang kita ambil mewajibkan buat ngebentuk kelompok presentasi. Otomatis the power of kepepetpun terjadi. Mau gak mau kita kenalan, kerja bareng,nyatuin ide, termasuk berantem. ahaha....ngomong-ngomong soal berantem, kayaknya aq merasa paling bersalah gara-gara aq sering marah-marah tiap kali kerja kelompok. Hehe...maklum...mereka pada gak kerja klo gak aq marahin. =D
Terus nih ya, qta udah sempat jalan-jalan bareng. Yah maklumlah suntuk banget gara-gara kebanyakan tugas yang bikin kpala ni kyk mo pecah. Jalan2nya gak jauh2 sih,cuma di seputaran jogja aja. Tapi seru banget,,,ketawa terus,,,gila2 an lah pokoknya. ^^
Meski gak jarang qta sering berantem, gak suka si A gak suka si B tapi kalau udah kumpul ya suasana jd cair lagi...haha...aneh ya. Ya itulah yang namanya persahabatan,,,,kayak asuransi...Always listening,always understanding. Uhuuyyy.... ^_____^
Sohib-sohib aq ini anak-anak transfer yang dulu udah menempuh tingkat D3. Mereka semua ternyata punya kisah yang unik-unik yang kalau dibahas mungkin bakalan menuhin blog aku ini. Qta smakin deket gara-gara di hampir semua mata kuliah yang kita ambil mewajibkan buat ngebentuk kelompok presentasi. Otomatis the power of kepepetpun terjadi. Mau gak mau kita kenalan, kerja bareng,nyatuin ide, termasuk berantem. ahaha....ngomong-ngomong soal berantem, kayaknya aq merasa paling bersalah gara-gara aq sering marah-marah tiap kali kerja kelompok. Hehe...maklum...mereka pada gak kerja klo gak aq marahin. =D
Terus nih ya, qta udah sempat jalan-jalan bareng. Yah maklumlah suntuk banget gara-gara kebanyakan tugas yang bikin kpala ni kyk mo pecah. Jalan2nya gak jauh2 sih,cuma di seputaran jogja aja. Tapi seru banget,,,ketawa terus,,,gila2 an lah pokoknya. ^^
Meski gak jarang qta sering berantem, gak suka si A gak suka si B tapi kalau udah kumpul ya suasana jd cair lagi...haha...aneh ya. Ya itulah yang namanya persahabatan,,,,kayak asuransi...Always listening,always understanding. Uhuuyyy.... ^_____^
The Soundtrack of Your Life
Sabtu, 28 Mei 2011
0
komentar
"Yang Terlewatkan . . . "
Dimana kau selama ini,
bidadari yang ku nanti
Kenapa baru sekarang
kita dipertemukan,
sesal tak kan ada arti, karena semua tlah terjadi,
kini kau tlah menjalani, sisa hidup dengannya
Mungkin salahku tak mencarimu sepenuh hati...
Maafkan aku...
Tak terasa air mata telah membasahi pipiku. Akupun terjaga dari mimpiku. Setelah aku terbangun, ternyata suara itu berasal dari radioku yang sedang memutarkan lagu milik Sheila on 7 berjudul "Yang Terlewatkan". Argggghhh....aku selalu menangis tiap kali mendengar lagu ini. Karena selalu membangkitkan ingatanku padanya.
Kala itu sore hari, aku berangkat dari kota Surabaya menuju Yogyakarta. Tujuanku ke Yogyakarta waktu itu adalah untuk mencari pekerjaan. Aku ingin sekali bekerja di Jogja karena suasana kotanya yang jauh lebih tenang dibandingkan di Surabaya yang kehidupannya sangat keras.
“Ibu, ayah, aku balik ke Jogja dulu ya. Ayah sama ibu baik-baik di rumah, gak usah mengkhawatirkan aku. Ok?” ucapku saat berpamitan dengan kedua orang tuaku
“Iya nak, ibu do’akan kamu cepat dapat pekerjaan ya. Hati-hati di jalan.”
“Jangan lupa sholat, mohon petunjuk sama Allah, supaya diberi kelancaran.”
“Iya ayah….zia ngerti kok. Pokoknya, ayah sama ibu do’ain zia supaya lancar semuanya. Ya udah, zia berangkat dulu ya….Assalamualaikum.”
Tak lupa aku mencium tangan ayah dan ibuku, serta memeluk keduanya. Akupun berjalan menuju gerbong kereta yang sudah menanti.
Ada perasaan haru menghinggapi dinding hatiku. Hari ini aku berangkat ke Yogyakarta untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya aku ingin bekerja di Surabaya saja, tetapi ayah dan ibuku justru tidak tega bila harus melihatku berjibaku dengan kota satelit ini.
Aku berjalan mencari tempat duduk di dalam gerbong kereta yang hendak membawaku ke kota Yogyakarta. Aku memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar.
Disampingku ada seorang laki-laki berbadan agak gemuk, memakai sweater dan topi. Dia tersenyum padaku, dan menyapaku dengan ramah.
“Mau ke Jogja ya?” tanyanya.
“Iya.” Jawabku.
“Kamu adiknya Viko yah?”
“Eh, kok tau?” tanyaku kaget.
“Aku tadi lihat kamu berpamitan sama mama papa-nya Viko.”
“Kenalin, namaku Baim.”
“Hah?????????”
Jantungku seakan berhenti seketika. Mendengar laki-laki itu menyebut nama Baim.
Aku pandangi setiap inchi wajahnya. Memang seperti penah melihat wajah itu.
Ya Tuhan, aku tidak lagi bermimpi kan?? Tolong bangunkan aku Ya Allah, jangan biarkan aku bermimpi yang aneh-aneh. Apalagi tentang Baim.
“aaaaaaaawww……” teriak laki-laki itu.
“Eh beneran ya??? Aku pikir mimpi. “
“Gila! Sakit tau ! Kenapa gak nyubit pipi kamu sendiri !?” ujarnya kesal karena pipinya aku cubit.
“Ma…maaf.”
“Tapi apa kamu beneran Baim ?? “
“Iya. Aku baim, teman SMA-nya Viko.”
“ Koq kamu…..gendutannnn ??????? Hahhhh..setauku Baim itu kerempeng.
Jangan sok ngaku-ngaku deh. Ihhhh….gak banget.”
“Heyyy….siapa juga yang ngaku-ngaku. Gak ada untungnya juga aku bohong.”
Sekali lagi kupandangi wajahnya yang putih bersih. Hah…benar, dia Baim. Laki-laki yang pernah aku sukai sewaktu SMP.
Aku benar-benar hampir tak mengenalinya. Kini pipinya keliatan tembem, badannya juga melebar. Padahal dulu dia tampan sekali, tinggi, kurus, putih, mirip artis Steve Emanuel.
“Hellooooo……masih gak percaya ya?”
“Eh,,,percaya koq.” Jawabku sambil tersenyum-senyum bahagia.
Dan kali ini jantungku malah berdegup kencang. Pikiranku melayang-layang. Perasaanku begitu bahagia. Apa yang dulu aku impi-impikan akhirnya benar-benar terjadi, walau hanya permulaan.
Yah,,,delapan tahun tahun yang lalu,tepatnya saat aku SMP. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedikitpun tak berani untuk sekedar menyapa “hai”. Tetapi sore ini, laki-laki itu benar-benar berada di depan mataku.
Masih hangat di dalam benakku, sewaktu pertama kali aku melihatnya. Delapan tahun silam, dia datang ke rumahku naik vespa putih. Dengan seragam abu-abunya yang dibiarkan menjuntai keluar.
Dia bersama segerombolan teman-temannya duduk di teras rumahku. Aku yang tak sengaja lewat di ruang tamu, terkesima saat melongok keluar. Aku terpesona dengan ketampanan wajahnya.
“Subhanallah….ternyata temannya kak Viko ada yang bening juga ya.Hahaha….”
“Kak viko…itu siapa kak namanya??” tanyaku antusias saat kakakku hendak membuat minuman untuk teman-temannya.
“Yang mana??”
“Yah..pake nanya,lagiii….ya yang paling bening donk. Kayak gak tau sifat adekmu saja kau ini kak….” Jawabku sambil tertawa.
“Yang paling bening kan aku…..VIKO PRATAMA.”
“Huekkz….mo muntah aku dengernya kak.”
“Ayolah kak,,kenalin aku sama teman kau itu….” Rengekku manja.
“Whatttt … ??? Kenalan sendiriiii…lah yaw.”
Seenaknya saja kakakku ngejawab sambil ngeloyor keluar.
Beberapa hari kemudian, saat akan pulang ke rumah, di pintu gerbang sekolahan, aku melihat gerombolan anak-anak SMA nongkrong.
“Nadaaa…sini.” Teriakku memanggil sahabatku nada.
“Ada apa zi ??”
“Eh,,coba deh kamu liat gerombolan anak-anak SMA disana.”
“Iya,aku liat. Terus kenapa?”
“Kamu tau gak, anak yang pake topi itu, yang duduk diatas vespa.”
“Mmmm…..Oooo….itu sih Ka’ Baim, tetanggaku.”
“Haaa….yang bener ??? Hahhahahha…..”
“Jiah..ya iyalah bener. Emang kenapa?”
“Ya ampun nadaaa…koq gak dari kemarin kamu ngomong kalau punya tetangga setampan itu ??”
“Ye…orang dia pindahan baru di kompleks aku.”
“Emangnya dia anak mana?”
“Kalau gak salah, dia pindahan dari Bandung.”
“Oh…gitu. Sip…Makasih ya infonya.”
Semenjak itu aku sudah jatuh cinta pada laki-laki yang saat ini ada dihadapanku ini. Dulu aku tidak pernah berani untuk menyapanya. Bahkan untuk mendapatkan fotonya aku meminta salah seorang sahabatku untuk mengambil gambarnya. Sampai sekarang foto itu masih tersimpan di dompetku. Dan kini dia benar-benar nyata dihadapanku, duduk disebelahku. Subhanallah...kami berbincang sepanjang perjalanan dari Surabaya hingga ke jogja. Sesekali aku tatap wajahnya agak lama, dan tersenyum bahagia, seakan semua terasa seperti mimpi. Dia ternyata tidak sesombong yang aku kira, dia justru sangat ramah.Bahkan dia memberiku panggilan sayang. Dan cerita itu tak hanya usai sampai disitu karena perasaanku yang sempat hilang sepertinya muncul lagi. Aku jatuh cinta lagi padanya. Hari demi hari ku lewati bersamanya di kota Yogyakarta. Entah mengapa aku merasa begitu damai. Bahkan aku tidak merasa canggung sedikitpun untuk menunjukkan kebiasaan-kebiasaan burukku yang terkadang aku tutup-tutupi bila sedang bersama dengan orang yang aku sukai. Hari berganti bulan, tetapi aku merasa ada sedikit kejanggalan. Dia seperti agak menjauh dariku. Bahkan sering ku dapati dia melamun dan tampak murung. Hingga suatu saat dia bilang padaku bahwa dia akan pergi ke Bandung. Sewaktu aku tanya ada perlu apa,,,tanpa basa-basi dia bilang kalau dia akan menikah 1 minggu lagi.
Kala itu tangan ini serasa ingin mendarat keras di wajahnya. Tetapi aku terlalu lemah untuk itu. Yang aku bisa lakukan hanyalah membiarka butiran-butiran air mata membasahi pipiku.
Dia mengusap air mataku dengan jari-jarinya. Aku tatap wajahnya dengan pandangan yang begitu dalam seakan tak percaya, dan berharap dia mencubitku agar aku terbangun dari mimpiku. Bahkan aku ingin dia menepuk pundakku lalu bilang "hei,aku bercanda!". Tetapi sepertinya aku telah terlalu banyak berharap. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan adalah "Adikku sayang, kakak akan tetap selalu menyayangimu.Kakak janji akan sering-sering ke Jogja untuk menemuimu.
Dan aku baru sadar kalau selama ini dia hanya menganggapku sebagai adik.
Gosh....!!! Terima kasih telah menyadarkanku. Sebaiknya aku berhenti menemuinya. Dan aku ikhlas jika dia telah menentukan jalan hidupnya sendiri dengan menikahi gadis pujaannya. Karena mungkin semua ini kesalahanku yang tidak benar-benar mencarinya. Sehingga saat aku dipertemukan dengannya, dia sudah menjadi milik orang lain.
Aku pun berdiri di depan kaca,dan ku mulai berdendang...
Pasti ku bisa...melanjutkannya...**Sheila on 7
Label:
Swaragama Contest
Entradas populares
-
Pada saat saya membaca sebuah artikel di koran Kompas, saya langsung teringat mengenai mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang diajar...
Datos personales
- Citra Rakhmawati
- Ngayogyakarta, Yogyakarta, Indonesia
- ***S.I.M.P.L.E***F.U.N.N.Y*** ***S.T.U.B.B.O.R.N***M.O.O.D.Y*** ^0^
Labels
- Bisnis yang bikin Cantiq (1)
- Fraternity without border (1)
- Music (1)
- Pengendalian Manajemen (2)
- Poems (4)
- Puisi (3)
- Ramadhan (1)
- Swaragama Contest (1)
Daftar Blog Saya
Páginas
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Blog Archive
Categorias
- Bisnis yang bikin Cantiq (1)
- Fraternity without border (1)
- Music (1)
- Pengendalian Manajemen (2)
- Poems (4)
- Puisi (3)
- Ramadhan (1)
- Swaragama Contest (1)

