"Mental Block"

Sabtu, 25 Juni 2011 Read Comment
Sekelompok eksekutif di devisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar, mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan, telah merebut pasar mereka. Kini mereka seakan tertampar karena menyadari selama perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, tetapi perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan "bussines as usual". Istilah "think out of the box" bahkan sudah tidak relevan lagi, karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy. Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "box" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan pola pikir lama? Cepat atau lambat semua keterikatan, peraturan atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, peru ditinjau kembali, dan diperbaharui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang herus setiap saat berpikir "beda"?

Sadar tidak sadar kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, tetapi justru kerap menerima bahwa kita terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, " Mungkin saya memang tidak kreatif.." Terobosan, pembaruan dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreatifitas yang istimewa. Secepatnya kita harus berpikir bahwa "box" yang dirasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Pada saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Kita sering sudah merasa menggunakan daya pikir kita secara all out,apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita stres dan lelah. Seorang teman berkomentar " Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"
Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah dan anggapan bahwa berpikir adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir.
Sementara itu ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, " The brain is a wonderful organ. It start the moment you get up and doesn't stop until you get into office.'

Marilah kita memperhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang yang pintar,logis ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan tidak membuatnya stres. Bahkan membuatnya bahagia. Bagaimana dengan kita dalam situsai kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha seraional mungkin? Kitapun kerap membatasi berpikir hanya pada saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi kita sering menginstruksikan diri untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa "mental block" sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah mengeblok mental, tentunya akan mati langkah.

Saat ini orang sudah tidak perlu bersusah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua inforamsi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan kepada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan apa bedanya kita dengan orang yang hidup pada era 30 tahun yang lalu?

Solusi tidak datang begitu saja, itu sebabnya kita harus piawai dalam proses mencari jalan keluar. Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui. Banyak tokoh yang kita kenal lulus dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan kemana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung dan matanya tajam-tajam serta menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?

Dikutip dari : Kompas,sabtu 18 Juni 2011. Hal. 37. By Eileen Rachman & Sylvina savitri.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Template Copy by Blogger Templates | BERITA_wongANteng |MASTER SEO |FREE BLOG TEMPLATES