The Soundtrack of Your Life

Sabtu, 28 Mei 2011 Read Comment


"Yang Terlewatkan . . . "

Dimana kau selama ini,
bidadari yang ku nanti
Kenapa baru sekarang
kita dipertemukan,
sesal tak kan ada arti, karena semua tlah terjadi,
kini kau tlah menjalani, sisa hidup dengannya
Mungkin salahku tak mencarimu sepenuh hati...
Maafkan aku...

Tak terasa air mata telah membasahi pipiku. Akupun terjaga dari mimpiku. Setelah aku terbangun, ternyata suara itu berasal dari radioku yang sedang memutarkan lagu milik Sheila on 7 berjudul "Yang Terlewatkan". Argggghhh....aku selalu menangis tiap kali mendengar lagu ini. Karena selalu membangkitkan ingatanku padanya.
Kala itu sore hari, aku berangkat dari kota Surabaya menuju Yogyakarta. Tujuanku ke Yogyakarta waktu itu adalah untuk mencari pekerjaan. Aku ingin sekali bekerja di Jogja karena suasana kotanya yang jauh lebih tenang dibandingkan di Surabaya yang kehidupannya sangat keras.
“Ibu, ayah, aku balik ke Jogja dulu ya. Ayah sama ibu baik-baik di rumah, gak usah mengkhawatirkan aku. Ok?” ucapku saat berpamitan dengan kedua orang tuaku
“Iya nak, ibu do’akan kamu cepat dapat pekerjaan ya. Hati-hati di jalan.”
“Jangan lupa sholat, mohon petunjuk sama Allah, supaya diberi kelancaran.”
“Iya ayah….zia ngerti kok. Pokoknya, ayah sama ibu do’ain zia supaya lancar semuanya. Ya udah, zia berangkat dulu ya….Assalamualaikum.”
Tak lupa aku mencium tangan ayah dan ibuku, serta memeluk keduanya. Akupun berjalan menuju gerbong kereta yang sudah menanti.
Ada perasaan haru menghinggapi dinding hatiku. Hari ini aku berangkat ke Yogyakarta untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya aku ingin bekerja di Surabaya saja, tetapi ayah dan ibuku justru tidak tega bila harus melihatku berjibaku dengan kota satelit ini.
Aku berjalan mencari tempat duduk di dalam gerbong kereta yang hendak membawaku ke kota Yogyakarta. Aku memilih duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar.
Disampingku ada seorang laki-laki berbadan agak gemuk, memakai sweater dan topi. Dia tersenyum padaku, dan menyapaku dengan ramah.
“Mau ke Jogja ya?” tanyanya.
“Iya.” Jawabku.
“Kamu adiknya Viko yah?”
“Eh, kok tau?” tanyaku kaget.
“Aku tadi lihat kamu berpamitan sama mama papa-nya Viko.”
“Kenalin, namaku Baim.”
“Hah?????????”
Jantungku seakan berhenti seketika. Mendengar laki-laki itu menyebut nama Baim.
Aku pandangi setiap inchi wajahnya. Memang seperti penah melihat wajah itu.
Ya Tuhan, aku tidak lagi bermimpi kan?? Tolong bangunkan aku Ya Allah, jangan biarkan aku bermimpi yang aneh-aneh. Apalagi tentang Baim.
“aaaaaaaawww……” teriak laki-laki itu.
“Eh beneran ya??? Aku pikir mimpi. “
“Gila! Sakit tau ! Kenapa gak nyubit pipi kamu sendiri !?” ujarnya kesal karena pipinya aku cubit.
“Ma…maaf.”
“Tapi apa kamu beneran Baim ?? “
“Iya. Aku baim, teman SMA-nya Viko.”
“ Koq kamu…..gendutannnn ??????? Hahhhh..setauku Baim itu kerempeng.
Jangan sok ngaku-ngaku deh. Ihhhh….gak banget.”
“Heyyy….siapa juga yang ngaku-ngaku. Gak ada untungnya juga aku bohong.”
Sekali lagi kupandangi wajahnya yang putih bersih. Hah…benar, dia Baim. Laki-laki yang pernah aku sukai sewaktu SMP.
Aku benar-benar hampir tak mengenalinya. Kini pipinya keliatan tembem, badannya juga melebar. Padahal dulu dia tampan sekali, tinggi, kurus, putih, mirip artis Steve Emanuel.
“Hellooooo……masih gak percaya ya?”
“Eh,,,percaya koq.” Jawabku sambil tersenyum-senyum bahagia.
Dan kali ini jantungku malah berdegup kencang. Pikiranku melayang-layang. Perasaanku begitu bahagia. Apa yang dulu aku impi-impikan akhirnya benar-benar terjadi, walau hanya permulaan.
Yah,,,delapan tahun tahun yang lalu,tepatnya saat aku SMP. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sedikitpun tak berani untuk sekedar menyapa “hai”. Tetapi sore ini, laki-laki itu benar-benar berada di depan mataku.
Masih hangat di dalam benakku, sewaktu pertama kali aku melihatnya. Delapan tahun silam, dia datang ke rumahku naik vespa putih. Dengan seragam abu-abunya yang dibiarkan menjuntai keluar.
Dia bersama segerombolan teman-temannya duduk di teras rumahku. Aku yang tak sengaja lewat di ruang tamu, terkesima saat melongok keluar. Aku terpesona dengan ketampanan wajahnya.
“Subhanallah….ternyata temannya kak Viko ada yang bening juga ya.Hahaha….”
“Kak viko…itu siapa kak namanya??” tanyaku antusias saat kakakku hendak membuat minuman untuk teman-temannya.
“Yang mana??”
“Yah..pake nanya,lagiii….ya yang paling bening donk. Kayak gak tau sifat adekmu saja kau ini kak….” Jawabku sambil tertawa.
“Yang paling bening kan aku…..VIKO PRATAMA.”
“Huekkz….mo muntah aku dengernya kak.”
“Ayolah kak,,kenalin aku sama teman kau itu….” Rengekku manja.
“Whatttt … ??? Kenalan sendiriiii…lah yaw.”
Seenaknya saja kakakku ngejawab sambil ngeloyor keluar.
Beberapa hari kemudian, saat akan pulang ke rumah, di pintu gerbang sekolahan, aku melihat gerombolan anak-anak SMA nongkrong.
“Nadaaa…sini.” Teriakku memanggil sahabatku nada.
“Ada apa zi ??”
“Eh,,coba deh kamu liat gerombolan anak-anak SMA disana.”
“Iya,aku liat. Terus kenapa?”
“Kamu tau gak, anak yang pake topi itu, yang duduk diatas vespa.”
“Mmmm…..Oooo….itu sih Ka’ Baim, tetanggaku.”
“Haaa….yang bener ??? Hahhahahha…..”
“Jiah..ya iyalah bener. Emang kenapa?”
“Ya ampun nadaaa…koq gak dari kemarin kamu ngomong kalau punya tetangga setampan itu ??”
“Ye…orang dia pindahan baru di kompleks aku.”
“Emangnya dia anak mana?”
“Kalau gak salah, dia pindahan dari Bandung.”
“Oh…gitu. Sip…Makasih ya infonya.”

Semenjak itu aku sudah jatuh cinta pada laki-laki yang saat ini ada dihadapanku ini. Dulu aku tidak pernah berani untuk menyapanya. Bahkan untuk mendapatkan fotonya aku meminta salah seorang sahabatku untuk mengambil gambarnya. Sampai sekarang foto itu masih tersimpan di dompetku. Dan kini dia benar-benar nyata dihadapanku, duduk disebelahku. Subhanallah...kami berbincang sepanjang perjalanan dari Surabaya hingga ke jogja. Sesekali aku tatap wajahnya agak lama, dan tersenyum bahagia, seakan semua terasa seperti mimpi. Dia ternyata tidak sesombong yang aku kira, dia justru sangat ramah.Bahkan dia memberiku panggilan sayang. Dan cerita itu tak hanya usai sampai disitu karena perasaanku yang sempat hilang sepertinya muncul lagi. Aku jatuh cinta lagi padanya. Hari demi hari ku lewati bersamanya di kota Yogyakarta. Entah mengapa aku merasa begitu damai. Bahkan aku tidak merasa canggung sedikitpun untuk menunjukkan kebiasaan-kebiasaan burukku yang terkadang aku tutup-tutupi bila sedang bersama dengan orang yang aku sukai. Hari berganti bulan, tetapi aku merasa ada sedikit kejanggalan. Dia seperti agak menjauh dariku. Bahkan sering ku dapati dia melamun dan tampak murung. Hingga suatu saat dia bilang padaku bahwa dia akan pergi ke Bandung. Sewaktu aku tanya ada perlu apa,,,tanpa basa-basi dia bilang kalau dia akan menikah 1 minggu lagi.
Kala itu tangan ini serasa ingin mendarat keras di wajahnya. Tetapi aku terlalu lemah untuk itu. Yang aku bisa lakukan hanyalah membiarka butiran-butiran air mata membasahi pipiku.
Dia mengusap air mataku dengan jari-jarinya. Aku tatap wajahnya dengan pandangan yang begitu dalam seakan tak percaya, dan berharap dia mencubitku agar aku terbangun dari mimpiku. Bahkan aku ingin dia menepuk pundakku lalu bilang "hei,aku bercanda!". Tetapi sepertinya aku telah terlalu banyak berharap. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan adalah "Adikku sayang, kakak akan tetap selalu menyayangimu.Kakak janji akan sering-sering ke Jogja untuk menemuimu.
Dan aku baru sadar kalau selama ini dia hanya menganggapku sebagai adik.
Gosh....!!! Terima kasih telah menyadarkanku. Sebaiknya aku berhenti menemuinya. Dan aku ikhlas jika dia telah menentukan jalan hidupnya sendiri dengan menikahi gadis pujaannya. Karena mungkin semua ini kesalahanku yang tidak benar-benar mencarinya. Sehingga saat aku dipertemukan dengannya, dia sudah menjadi milik orang lain.

Aku pun berdiri di depan kaca,dan ku mulai berdendang...
Pasti ku bisa...melanjutkannya...**Sheila on 7


0 komentar:

Posting Komentar

 

Template Copy by Blogger Templates | BERITA_wongANteng |MASTER SEO |FREE BLOG TEMPLATES