Peran Manajer Lini sebagai "Manajer SDM"

Sabtu, 25 Juni 2011 0 komentar
Pada saat saya membaca sebuah artikel di koran Kompas, saya langsung teringat mengenai mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen yang diajarkan oleh dosen saya. Dan saya tertarik untuk menuliskannya kembali artikel tersebut karena cukup menggelitik dan rasanya hal ini perlu kita ketahui agar bisa diterapkan di perusahaan-perusahaan dewasa ini.

Disini terdapat sebuah kasus, dimana Yudi sebagai seorang manajer SUmber Daya Manusia (SDM) yang telah cukup lama bekerja di sebuah perusahaan perbankan, mengeluhkan permasalahan yang dihadapi oleh tim SDM-nya. Dia merasakan bahwa apapun yang telah mereka lakukan, kurang mendapat dukungan maupun apresiasi dari bagian kerja laiinya. Kemudian dia menceritakan mengenai keluhan dari bagian lain tentang pengembangan karyawan yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan. Bagian SDM juga sering dianggap musuh karyawan karena menjadi pusat pemberi Surat Peringatan (SP). Tidak jarang SP yang diberikan menimbulkan kaget luar biasa bagi karyawan terkait karena atasannya, yang sebenarnya mengajukan permintaan SP, tidak pernah mengingatkan kesalahan yang dilakukannya sebelumnya.

Kasus diatas bukanlah kejadian yang unik. Bagian SDM sering merasa menjadi bulan-bulanan masalah dan bagian lainnya sering merasa bagian SDM tidak mampu menjadi mitra bisnis dalam memberikan dukungan yang sesuai. Para manajer lini seringkali berharap bahwa bagian SDM yang sepenuhnya merekrut dan mengembangkan karyawan sehingga mampu memberikan karyawan instant yang matang dan siap memberikan kontribusi yang optimal, para manaje dengan mudah menyalahkan bagian SDM.

Dari survei yang dilakukan, mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab dalam melakukan proses pengembangan karyawan. Kebanyakan peserta sekitar 60-70 persen manyatakan bahwa manajer SDM lah yang memiliki tanggung jawab tersebut. Hasil survei tersebut menunjukkan kesalahan persepsi tentang arti pengembangan karyawan. Bentuk pengembangan yang sering muncul dalam pikiran manajer adalah dalam bentuk kelas pelatihan. Karena anggaran pelatihan dipegang oleh bagian SDM , pengembangan dianggap merupakan tanggung jawab bagian tersebut.

Namun pelatihan hanyalah sebagian kecil dari proses pengembangan. Pengembangan juga terdiri dari pemberian penugasan khusus, mutasi, umpan balik, bimbingan dan aktivitas lainnya yang lebih efektif ditangani oleh atasan langsung. Bahkan, penentuan jenis pelatihan merupakan bagian dari tanggung jawab manajer lini. Dengan masukan dari manajer lini, bagian SDM dapat menentukan jenis pelatihan yang lebih tepat dan sesuai sasaran.

Sering pelatihan di keals gagal menghasilkan perbaikan perilaku karena atasan dari peserta tidak menindaklanjuti dan menekankan penggunaan dari perilaku yang diajarkan. Bahkan, kadang atasan tersebut justru menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan konsep yang diberikan selama pelatihan.

Dave Ulrich melakukan riset terhadap lebih dari 400 organisasi di dunia dan menemukan bahwa peran Employee Champion, yaitu peran untuk mengembangkan dan memotivasi karyawan sehari-hari agar memiliki komitmen dan meemberi kontribusi secara optimal dalam kinerja mereka, merupakan tanggung jawab milik manajer lini. Di organisasi Hewlett-Packard, misalnya, 98% dari peran ini dijalankan oleh manajer lini. Bagian SDM memiliki tanggung jawab 2 % dengan menyiapkan kebijakan tentang program pengembangan karyawan serta mensosialisasikan dan memantau implementasi dari kebijakan tersebut. Sebagai oragnisasi yang masuk dalam daftar "Good to Graet Company" menurut studi Jim Collins, Hewlet-Packard memiliki praktek Employee Champion layak menjadi inspirasi bagi organisasi di Indonesia. Penambahan peran pengelolaan karyawan pada fungsi manajer lini merupakan keaharusan dalam sebuah organisasi untuk meningkatkan efektivitas dari penerapan inisiatif SDm apapun yang ingin dijalanka,

Tanpa kesadaran peran baru ini, program SDM yang dijalankan menjadi tidak efektif karena tidak di dukung oleh manajer lini. Sebagai seorang manajer SDM perlu mengambil tindakan secara proaktif untuk mengembagkan wawasan akan paradigma ini dan memberi ketrampilan kepada manaje lini agar mereka memahami dan mampu menjalankan peran manajer SDM di bagiannya.



Sumber : Kompas, Sabtu 18 Juni 2011, hal. 57. Oleh : Bayu Setiaji, Vice President,Delivery, PT Lutan Edukasi.

"Mental Block"

0 komentar
Sekelompok eksekutif di devisi penjualan pada sebuah perusahaan dengan nama besar, mengeluhkan berbagai kesulitan yang dihadapi untuk bersaing, survive, dan menembus pasar. Tim yang menjadi ujung tombak untuk mencetak profit ini pun ketar-ketir dengan masa depan perusahaan. Kompetitor yang begitu agresif dengan berbagai terobosan, telah merebut pasar mereka. Kini mereka seakan tertampar karena menyadari selama perlombaan modal yang kita hadapi sekarang, tetapi perlombaan kreativitaslah yang akan menentukan siapa yang melesat ke depan.

Kita memang tidak lagi bisa terlena menjalankan "bussines as usual". Istilah "think out of the box" bahkan sudah tidak relevan lagi, karena saat sekarang kita dituntut untuk tidak berada dalam "kotak" lagi. Kita lihat betapa absensi di banyak perusahaan kini tidak relevan lagi, digantikan dengan flexitime yang lebih mampu mendorong produktivitas dan membuat karyawan happy. Ini adalah salah satu contoh dari lenyapnya "box" yang sering disebut-sebut itu. Bisakah kita membayangkan, pola kerja yang telah menerapkan kebebasan absensi, tetapi tetap menggunakan cara kerja dan pola pikir lama? Cepat atau lambat semua keterikatan, peraturan atau standar operasi yang tadinya ada, harus berubah sesuai tuntutan situasi, peru ditinjau kembali, dan diperbaharui. Siapa penggeraknya? Bukankah kita sendirilah yang herus setiap saat berpikir "beda"?

Sadar tidak sadar kita kerap membangun tembok-tembok, benteng atau "kotak" yang membuat pandangan dan pikiran kita terbatas. Bukan saja menyadari, tetapi justru kerap menerima bahwa kita terkungkung dengan paham konvensional, birokrasi dan rutinitas yang menyebabkan diri kita tidak kreatif. Bila upaya mencari jalan keluar dirasa mentok, dengan cepat kita berpikir, " Mungkin saya memang tidak kreatif.." Terobosan, pembaruan dan inovasi adalah tuntutan kerja zaman sekarang. Kita tidak lagi bisa menganggap bahwa semua terobosan yang kita hasilkan adalah hasil kreatifitas yang istimewa. Secepatnya kita harus berpikir bahwa "box" yang dirasa mengurung diri kita hanyalah paradigma yang perlu dicabut dari benak kita. Pada saat sekarang, setiap orang harus secerdik kancil, tidak pernah boleh berhenti dan tidak bisa merasa berada di titik kepuasan atau comfort.

Kita sering sudah merasa menggunakan daya pikir kita secara all out,apalagi setelah rapat brainstorming atau rapat evaluasi yang sampai membuat kita stres dan lelah. Seorang teman berkomentar " Kalau dibombardir seperti ini oleh atasan, bagaimana kita bisa berpikir kreatif?"
Ada anggapan bahwa suasana kantor yang tegang membuat orang berhenti berpikir dan seakan menjadi robot saja. Rasa takut salah dan anggapan bahwa berpikir adalah kegiatan yang sangat serius, menyebabkan otak kita membentuk semacam rem yang bisa menghentikan kegiatan berpikir.
Sementara itu ada orang yang tetap berpikir dalam tidurnya, pada saat melakukan segala macam kegiatan dan kemudian memunculkan ide baru tanpa peduli tempat dan waktu, " The brain is a wonderful organ. It start the moment you get up and doesn't stop until you get into office.'

Marilah kita memperhatikan bagaimana seorang anak sampai pada pemikiran-pemikiran yang unik dan tidak terpikirkan oleh kita. Pertama-tama, ia tidak memaksa dirinya untuk mendapatkan jawaban segera. Pikirannya mengembara tanpa ada batas-batas jam kerja atau situasi tertentu. Ia tidak pernah berpikir apakah ia seorang yang yang pintar,logis ataupun rasional. Berpikir seakan menjadi kegiatan mental anak yang bagaikan permainan tidak membuatnya stres. Bahkan membuatnya bahagia. Bagaimana dengan kita dalam situsai kerja? Bukankah kita sering merasa mentok saat memaksakan diri untuk berpikir sesuai dengan aturan tertentu atau berusaha seraional mungkin? Kitapun kerap membatasi berpikir hanya pada saat meeting atau pada saat jam kerja. Belum lagi kita sering menginstruksikan diri untuk tidak memikirkan urusan orang lain, divisi lain, perusahaan lain. Dari sini kita melihat bahwa "mental block" sebenarnya tidak terjadi, tetapi kita sendiri yang menciptakan benteng dan membatasi kemampuan berpikir kita. Kita yang sudah mengeblok mental, tentunya akan mati langkah.

Saat ini orang sudah tidak perlu bersusah-susah mencari tahu lagi. Dengan bantuan search engine, semua inforamsi tersaji di depan mata dalam waktu sekejap. Tantangan kepada kegiatan berpikir kita justru saat harus memilih dan memilah informasi yang sudah tergelar secara terbuka dan real time. Bila sibuk membatasi pikiran dan menciptakan batasan-batasan apa bedanya kita dengan orang yang hidup pada era 30 tahun yang lalu?

Solusi tidak datang begitu saja, itu sebabnya kita harus piawai dalam proses mencari jalan keluar. Dengan membiasakan diri mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mengisi titik-titik pemahaman yang kosong dan tidak malu-malu belajar pada orang yang lebih yunior mengenai sesuatu yang tidak kita ketahui. Banyak tokoh yang kita kenal lulus dengan karya kreatif dan inovasinya memiliki kebiasaan berpikir yang membebaskan diri dari mental block, misalnya saja Einstein. Sebelum menemukan teori relativitas, Einstein mempunyai kebiasaan melakukan pengamatan kemana saja ia pergi. Tidak ada hal yang luput dari perhatiannya. Ia memasang telinga, hidung dan matanya tajam-tajam serta menyerap semua gejala yang dialaminya. Ia membca, bermimpi, serta hidup dengan pertanyaan-pertanyaan di benaknya. Bukankah ini kebiasaan-kebiasaan yang sangat bisa ditiru dan juga mudah untuk kita lakukan?

Dikutip dari : Kompas,sabtu 18 Juni 2011. Hal. 37. By Eileen Rachman & Sylvina savitri.

We call it FrieNdzhip - UTY Gangster

Kamis, 09 Juni 2011 0 komentar
Pertama kali aq masuk ni kampus, rasanya malezzz bangettt....gara2 gak ada satupun temen seangkatan dari kampusku yang lama. Udah gtu anak2nya keliatan pendiemmmm banget,,,gak asik lah pokoknya. Aq ngerasa asing banget di sini. Gak betah lah intinya, tapi terpaksa gara2 aq emang niat buat nglanjutin kuliah disini. Coz selain biayanya murah, aq pengen punya temen baru. Satu semester rasanya lamaaaa....banget dilewati,,,apalagi tugas yang segudang semakin bikin bad mood. Tapi seiring berjalannya waktu,,,aq makin deket sama anak-anak. Dan yang dulu masih pada jaim-jaiman, sekarang udah gak lagi. Pokoknya ketahuan ancurnya. Hahaha....

Sohib-sohib aq ini anak-anak transfer yang dulu udah menempuh tingkat D3. Mereka semua ternyata punya kisah yang unik-unik yang kalau dibahas mungkin bakalan menuhin blog aku ini. Qta smakin deket gara-gara di hampir semua mata kuliah yang kita ambil mewajibkan buat ngebentuk kelompok presentasi. Otomatis the power of kepepetpun terjadi. Mau gak mau kita kenalan, kerja bareng,nyatuin ide, termasuk berantem. ahaha....ngomong-ngomong soal berantem, kayaknya aq merasa paling bersalah gara-gara aq sering marah-marah tiap kali kerja kelompok. Hehe...maklum...mereka pada gak kerja klo gak aq marahin. =D

Terus nih ya, qta udah sempat jalan-jalan bareng. Yah maklumlah suntuk banget gara-gara kebanyakan tugas yang bikin kpala ni kyk mo pecah. Jalan2nya gak jauh2 sih,cuma di seputaran jogja aja. Tapi seru banget,,,ketawa terus,,,gila2 an lah pokoknya. ^^





Meski gak jarang qta sering berantem, gak suka si A gak suka si B tapi kalau udah kumpul ya suasana jd cair lagi...haha...aneh ya. Ya itulah yang namanya persahabatan,,,,kayak asuransi...Always listening,always understanding. Uhuuyyy.... ^_____^
 

Template Copy by Blogger Templates | BERITA_wongANteng |MASTER SEO |FREE BLOG TEMPLATES